PANGKALPINANG — Deru mesin, suara knalpot dan ketatnya persaingan di lintasan ternyata bukan sekadar tontonan olahraga. Di balik setiap gelaran otomotif, ada ribuan orang yang datang, pelaku UMKM yang berjualan, kamar hotel yang terisi, restoran yang ramai hingga perputaran ekonomi yang ikut bergerak. Minggu (23/8/2026)

Melihat besarnya potensi tersebut, Ketua Pengprov Ikatan Motor Indonesia (IMI) Bangka Belitung, Adhy Sarphio, SH, mendorong dukungan penuh Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) terhadap pengembangan olahraga otomotif di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Menurut Adhy, event otomotif harus dilihat lebih luas. Bukan hanya sebagai kompetisi di lintasan, tetapi juga sebagai bagian dari penggerak ekonomi, pariwisata dan promosi daerah.

“Kegiatan otomotif bukan hanya sekadar balapan. Setiap gelaran event sudah pasti menarik ribuan penonton. Ini menjadi peluang bagi UMKM untuk menjajakan makanan dan minuman kepada para penonton,” ujar Adhy.

Ia mengatakan, efek ekonomi dari sebuah event otomotif bahkan bisa dirasakan jauh di luar arena pertandingan.

Ketika peserta datang dari luar Babel, mereka membutuhkan tempat menginap, makan, transportasi dan berbagai kebutuhan lainnya. Begitu pula dengan penonton yang datang dari berbagai kabupaten di Babel maupun dari luar provinsi.

Kondisi itu secara otomatis menciptakan perputaran ekonomi bagi masyarakat.

“Hotel, restoran, rumah makan hingga kafe ikut merasakan peningkatan omzet setiap kali ada event. Artinya, kegiatan otomotif memberikan multiplier effect yang cukup besar terhadap perekonomian daerah,” katanya.

Tak hanya itu, Adhy melihat event road race maupun drag bike juga berpotensi menjadi magnet wisata baru. Kehadiran peserta dari luar daerah sekaligus menjadi kesempatan untuk memperkenalkan destinasi wisata, kuliner dan berbagai potensi lokal Babel.

“Tidak jarang event balapan yang kita selenggarakan menjadi magnet wisata lokal maupun nasional. Peserta berdatangan dari luar Babel, penonton juga datang dari berbagai penjuru Babel. Ini sebenarnya potensi yang sangat besar untuk kita kembangkan bersama,” ungkapnya.

Karena itu, Adhy berharap pemerintah daerah dan Forkopimda tidak melihat event otomotif semata-mata dari sisi perlombaan. Menurutnya, dukungan terhadap otomotif merupakan bagian dari investasi terhadap ekonomi kreatif, UMKM, pariwisata dan industri jasa.

Namun, di tengah besarnya potensi tersebut, Babel masih menghadapi persoalan mendasar, yakni keterbatasan fasilitas otomotif permanen yang memenuhi standar.

Adhy secara khusus menyoroti cabang road race dan drag bike yang hingga kini belum memiliki fasilitas permanen berstandar seperti yang tersedia di sejumlah daerah lain di Indonesia.

“Terkhusus road race dan drag bike, Babel belum memiliki fasilitas standar permanen seperti di kota-kota lain di Indonesia. Bahkan di Sumatera, provinsi-provinsi lain sudah memiliki sirkuit permanen. Kita jangan sampai tertinggal,” tegasnya.

Menurutnya, keberadaan sirkuit permanen akan memberikan banyak keuntungan. Selain meningkatkan kualitas penyelenggaraan kompetisi, fasilitas tersebut dapat digunakan secara berkelanjutan untuk berbagai event nasional dan regional.

Dengan fasilitas yang memadai, Babel juga berpeluang menjadi tuan rumah event otomotif berskala lebih besar yang tentunya berpotensi mendatangkan lebih banyak peserta dan penonton dari luar daerah.

“Kami sangat berharap pemerintah dapat memberikan dukungan maksimal terhadap fasilitas event otomotif di Babel. Jangan hanya melihat balapannya, tetapi lihat juga dampak ekonominya. Ketika ribuan orang datang, UMKM bergerak, hotel terisi, restoran ramai dan pariwisata ikut terangkat. Ini yang harus kita dorong bersama,” pungkas Adhy.

Bagi IMI Babel, suara mesin di lintasan bukan sekadar suara adrenalin. Di balik deru knalpot itu, terdapat peluang ekonomi yang jika dikelola serius dapat menjadi salah satu kekuatan baru bagi Bangka Belitung. (Beradoknews.com KBO Babel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *