BANGKA BELITUNG — Perjalanan hidup Juliana Moechtar menjadi kisah tentang kehilangan, keteguhan hati, dan keberanian membuka lembaran baru. Dari dunia modeling dan hiburan, namanya kemudian dikenal dalam perjalanan yang berbeda setelah menjadi bagian dari keluarga besar TNI Angkatan Darat dan Persit Kartika Chandra Kirana.
Kehidupan Juliana berubah drastis setelah sang suami pertama, Herman Sikumbang, gitaris band Seventeen, meninggal dunia dalam tragedi tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018.
Kepergian Herman meninggalkan duka mendalam. Juliana harus menjalani kehidupan sebagai seorang ibu sekaligus membesarkan dua anak dalam situasi yang tidak mudah.
Namun, waktu perlahan mengajarkan bahwa kehidupan harus terus berjalan. Setelah sekitar empat tahun menjalani kehidupannya bersama anak-anak, Juliana kembali membuka lembaran baru.
Pada 27 Mei 2022, Juliana menikah dengan Nur Wahyudi di Masjid Istiqlal, Jakarta. Ketika itu, Nur Wahyudi masih berpangkat Letnan Kolonel Infanteri.
Pernikahan tersebut kemudian membawa Juliana memasuki lingkungan baru sebagai bagian dari keluarga besar prajurit TNI AD. Ia pun mulai menjalankan berbagai peran dalam organisasi Persit Kartika Chandra Kirana, organisasi yang menaungi para istri prajurit TNI Angkatan Darat.
Seiring perjalanan tugas sang suami, Juliana dipercaya mengemban sejumlah amanah di lingkungan Persit. Di antaranya sebagai Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XIX Dim 0603 Rem 064 ketika Nur Wahyudi menjalankan tugas sebagai Dandim Lebak.
Ketika sang suami dipercaya memimpin Satuan 81 Kopassus, Juliana juga menjalankan amanah sebagai Ketua Persit Cabang VI Sat 81 PCBS Kopassus.
Karier militer Nur Wahyudi kemudian terus berkembang. Ia pernah dipercaya memimpin Satuan 81 Kopassus sebelum pada 2025 memperoleh kenaikan pangkat menjadi Brigadir Jenderal TNI dan dipercaya menjabat Danrem 045/Garuda Jaya di bawah Kodam II/Sriwijaya.
Perjalanan tersebut membuat sosok Juliana semakin dekat dengan berbagai kegiatan resmi Persit dan lingkungan TNI. Pada 2026, kiprahnya sebagai Ibu Persit masih terlihat dalam sejumlah kegiatan yang melibatkan keluarga besar TNI, termasuk kegiatan yang berkaitan dengan lingkungan Kopassus.
Bagi Juliana, perjalanan itu tentu bukan sekadar perubahan status atau lingkungan kehidupan. Ada proses panjang yang mempertemukan masa lalu, kehilangan, keluarga, dan tanggung jawab baru.
Sebelum memasuki dunia Persit, Juliana dikenal sebagai sosok yang pernah menapaki dunia modeling dan hiburan. Ia juga merupakan finalis Puteri Indonesia 2010.
Kini, kehidupannya berada dalam fase yang berbeda. Ia menjalani peran sebagai ibu, istri seorang perwira tinggi TNI, sekaligus bagian dari organisasi Persit Kartika Chandra Kirana.
Kisah Juliana Moechtar menjadi gambaran bahwa perjalanan hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan rencana. Ada kehilangan yang harus diterima, ada luka yang harus dilewati, dan ada kesempatan untuk kembali menata kehidupan.
Dari sebuah kehilangan besar pada 2018, Juliana kemudian memilih melanjutkan perjalanan. Hari ini, ia menjalani babak baru bersama keluarga, mendampingi sang suami dalam pengabdian, serta menjalankan amanah yang dipercayakan kepadanya.
Sebuah perjalanan panjang—pernah kehilangan, kemudian bangkit, dan kini menatap masa depan bersama keluarga.
Semoga setiap amanah yang dijalani Juliana Moechtar senantiasa membawa kebaikan bagi keluarga, organisasi, dan lingkungan di sekitarnya. (Beradoknews.com kbobabel)
